PSIKOLOGI BEHAVIORISTIK



Psikologi behaviorisme merupakan salah satu aliran psikologi yang memandang individu hanya dari sisi fenomena jasmaniah, dan mengabaikan aspek-aspek mental. Aliran ini sering dikaitkan sebagai aliran ilmu jiwa, tetapi tidak peduli pada jiwa. Pada akhir abad ke-19, Ivan Pavlov memulai eksperimen psikologi yang mencapai puncaknya pada tahun 1940-1950-an. Disini, psikologi didefinisikan sebagai sains dan sains hanya berhubungan dengan sesuatu yang dapat dilihat dan diamati. Karena tidak bisa diamati, “jiwa” tidak digolongkan ke dalam psikologi. Dari pernyataan tersebut, dapat disimpulkan bahwa aliran behaviorisme tidak mengakui adanya kecerdasan, bakat, minat, dan perasaan individu dalam belajar. Peristiwa belajar semata-mata melatih refleks-refleks sedemikian rupa sehingga menjadi kebiasaan yang dikuasai individu. Belajar merupakan akibat dari adanya interaksi antara stimulus dan respon (Slavin dalam Supriadi, 2015)
Psikologi behaviorisme sebenarnya sudah dideklarasikan terlebih dahulu oleh John B. Watson pada tahun 1913. Sama halnya dengan psikoanalisis, behaviorisme merupakan aliran psikologi revolusioner yang kuat dan berpengaruh, behaviorisme lahir sebagai reaksi terhadap introspeksionisme dan psikoanalisis, aliran yang muncul pada awal terbentuknya psikologi. Selain Watson dan Ivan Pavlov, E.L Thorndike dan B.F Skinner juga merupakan tokoh yang berpengaruh dalam perkembangan teori psikologi behaviorisme. Meskipun J.B Watson adalah penemu teori ini, namun Skinner adalah tokoh behaviorisme paling populer mengingat  dia adalah tokoh paling produktif dalam mengemukakan gagasan dalam penelitian, paling berpengaruh, serta paling cerdas dalam menjawab tantangan dan kritik atas teori behaviorisme (Koeswara, 2001:69)
Tujuan utama dari aliran behaviorisme yaitu, ingin menganalisis bahwa hanya perilaku yang tampak yang dapat diukur, dilukiskan, dan diramalkan. Ketika dilahirkan, pada dasarnya, manusia tidak membawa bakat apa-apa. Manusia akan berkembang berdasarkan stimulus yang diterimanya dari lingkungan sekitar. Oleh karena itu, lingkungan yang buruk akan menghasilkan manusia buruk, sedangkan lingkungan yang baik akan menghasilkan manusia baik. Kaum behavioris memusatkan pada pendekatan ilmiah yang sungguh-sungguh objektif. Semua istilah yang bersifat subjektif, seperti sensasi, persepsi, hasrat, tujuan, termasuk berpikir dan emosi semuanya dihilangkan.
Aliran behaviorisme memiliki 3 prinsip, yaitu :
1.      Menekankan respons terkondisi sebagai elemen atau pembangun pelaku. Kondisi adalah lingkungan eksternal yang hadir dalam kehidupan. Perilaku muncul sebagai respon dari kondisi yang mengelilingi manusia dan hewan.
2.      Perilaku dipelajari sebagai konsekuensi dari pengaruh lingkungan, maka perilaku terbentuk karena dipelajari. Lingkungan terdiri atas pengalaman, baik masa lalu maupun yang baru, materi fisik dan social. Lingkungan yang akan memberikan contoh dan individu akan belajar dari semua itu.
3.      Memusatkan pada perilaku hewan. Manusia dan hewan sama, jadi mempelajari perilaku hewan dapat digunakan untuk menjelaskan perilaku hewan.

Comments

Popular Posts